Menu

gambar boleh diambil

Jumat, 20 Februari 2009

Tasawuf dalam Pandangan Islam

Pendahuluan

Ada sebagian orang bertanya, adakah istilah tasawuf pada zaman Rasulullah Saw? Tentu jawabannya tidak ada. Sebab, penamaan cabang-cabang ilmu syariat belum ada pada zaman Rasulullah Saw, tetapi praktek cabang-cabang ilmu tersebut sudah ada sejak zamannya. Misalnya ilmu tafsir, penamaannya baru populer setelah abad ke-2 H yang dipelopori oleh para penulis perdana dalam cabang ilmu ini seperti, Syu’bah bin Hajjaj, Sufyan bin Uyainah dan Waki’ bin Jarah, padahal praktek penafsiran sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw. Begitu juga ilmu tasawuf dan cabang-cabang ilmu syariat yang lain. Tasawuf merupakan salah satu cabang ilmu syariat yang mengajarkan pendidikan dan akhlak di jalan Allah Swt.

Dalam Mukadimah-nya, Ibn Al-Khaldun menulis, “Ilmu ini (yakni tasawuf) salah satu ilmu syariat baru di dalam agama Islam. Sebenarnya, metode kaum ini (kaum sufi) telah ada sejak masa para sahabat, tabiin dan ulama-ulama penerusnya, sebagai jalan kebenaran dan petunjuk. Inti tasawuf adalah tekun beribadah, memutuskan hubungan dari selain Allah, menjauhi kemewahan dan kegemerlapan duniawi, meninggalkan kelezatan harta dan tahta yang sering dikejar kebanyakan manusia dan mengasingkan diri dari manusia untuk beribadah. Tasawuf berperan dalam membersihkan hati sanubari. Karenanya tasawuf banyak berurusan dengan dimensi esoterik (batin) dari manusia.[1] Praktek ini populer di kalangan para sahabat dan ulama terdahulu. Ketika tren mengejar dunia menyebar di abad kedua dan setelahnya, manusia mulai tenggelam dalam kenikmatan duniawi, orang-orang yang mengkhususkan kepada ibadah disebut sufi”.

Pembahasan

a. Definisi Tasawuf

Sebagian orang berpendapat bahwa Tasawuf berasal dari kata Shuf , sebuah pakaian yang terbuat dari wol yang digunakan oleh para ahli ibadah dan zuhud yang tidak tertarik kepada gaya hidup mewah. Diriwayatkan bahwa Hasan Al-Basry ra. Pernah berkata, “Aku telah menemui tujuh puluh ahli Badar (para sahabat Nabi yang menghadiri perang Badar). Mereka semua memakai baju yang terbuat dari wol.” Ada juga yang berpendapat bahwa Tasawuf berasal dari Shaf (barisan), karena mereka berada pada barisan terdepan di hadapan Allah Swt. Ada yang berkata berasal dari Shufah, beranda masjid Nabawi di Madinah.

Sedangkan seorang orientalis Nicholson salah mendefinisikannya. Ia berkata bahwa Tasawuf berasal dari kalimat Yunani, Budha atau yang lainnya. Padahal tidak ada bukti sedikitpun yang menunjukkan bahwa Tasawuf berasal dari kalimat Yunani sophis. Dari segi Linguistik (kebahasaan), tasawuf berarti sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan selalu bersikap bijaksana. Sikap jiwa yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak yang mulia.[2]

Berikut ini penulis mencantumkan definisi Tasawuf menurut beberapa ulama terkenal. Abdul Qadir Jailani mendefinisikan, “Tasawuf tidak bisa diperoleh dengan perkataan dan pendapat manusia. Tapi tasawuf hanya bisa diperoleh lewat lapar dan memutuskan kebiasaan dan kenikmatan.” Sedangkan Abu Hamid Al Ghazali berkata, “Tasawuf adalah mengosongkan hati hanya untuk allah swt, dan meremehkan segala sesuatu selain-Nya. Yakni menyerah sepenuh hati kepada Allah dan meyakini bahwa segala sesuatu selain-Nya tidak dapat membahayakan dan memberikan manfaat. Maka tidak bergantung kecuali kepada Allah. Yang dimaksud dengan “meremehkan selain Allah” adalah meyakini bahwa sesuatu itu tidak bisa membahayakan dan memberi manfaat, bukan menghina dan merendahkannya.” Tasawuf menurut Ibn Athaillah Assakandari (seorang penulis buku hikmah terkenal) adalah manja kepada Allah. Sedangkan Abul Hasan Asy-Syadzili berpendapat bahwa Tasawuf adalah latihan menghamba dan upaya menundukkan jiwa kepada hukumhukum ilahi. Muhyiddin Ibn Al-‘Arabi berkata, “Tasawuf adalah mengikat lahir dan batin dengan adab-adab syariat.” Adapun Zakariya Al Anshari mendefinisikannya sebagai sebuah ilmu yang menjelaskan kiat membersihkan jiwa, mensucikan akhlak dan membentuk lahir dan batin untuk meperoleh kebahagiaan abadi.

Seorang ulama ternama yang berdomisili di Damaskus DR. M. Said Ramadhan Al Buthi berpendapat bahwa Tasawuf adalah nama baru untuk benda lama. Sebab sesuatu yang dinamakan dengan tasawuf ini tidak lebih dari sekedar upaya membersihkan jiwa dari penyakit-penyakit yang biasa menempel padanya seperti dengki, sombong, cinta dunia, cinta jabatan, selain sebuah upaya untuk mengarahkan jiwa kepada cinta Allah, ridha kepada-Nya, bertawakkal dan ikhlas untuk-Nya. Ketika seorang muslim sudah terlepas dari semua penyakit hati (dengki, sombong, cinta dunia, dan lain sebagainya), ia akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi (dunia dan akhirat). Ia juga akan merasakan keindahan pada setiap ibadahnya.

b. Tasawuf dan Perkembangannya

Ilmu ini mulai populer pada abad ke-2 H. DR. Hasan Ibrahim Hasan berkata, “Salah satu permasalahan yang menarik perhatian kaum muslimin pada zaman itu (masa setelah sahabat) adalah Tasawuf. Hal itu karena kebanyakan kaum muslimin yang sangat wara’, takwa dan hati mereka dipenuhi cinta kepada Allah tidak mendapatkan kepuasan dalam ilmu kalam. Mereka lalu berinisiatif untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui zuhud dan hidup serba kurang serta memfanakan diri dalam cinta ilahi. Oleh karena itu, mereka disebut Mutasawifin (penganut tasawuf).

Sejarah Tasawuf bisa ditelusuri asalnya hingga ke generasi awal kaum muslimin di masa nabi, orang yang dikenal melakukan praktek-praktek sufistik pada permulaan Islam adalah Abu Dzar Al-Ghifari ra. Namun orang pertama yang disebut sufi adalah Abu Hasyim. Ia dilahirkan di Kufah dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Syam lalu wafat pada tahun 150 H. Adapun orang yang pertama kali meletakkan dan menjelaskan teori-teori tasawuf adalah Dzu un-Nun Al-Misry (w.245 H.) seorang murid Imam Malik. Sedangkan yang menjelaskan dan menyusunnya serta menyebarkannya

adalah Juneid Al-Baghdadi (w.335 H.)

Tasawuf adalah sebuah gelar yang diberikan manusia kepada pribadi-pribadi muslim yang berpegang teguh kepada Al Kitab dan Sunnah. Intinya adalah aqidah, akhlak, jihad dan dakwah. Sedangkan penopangnya adalah islam, iman dan ihsan yang terdapat didalamnya pengawasan (Muroqobah), penyaksian (Musyahadah) dan mengikuti (Mutaba’ah) ajaran Qur’an dan Sunnah. Adapun tujuan tasawuf adalah melepaskan diri dari sifat-sifat hina lalu menghiasnya dengan berbagai kemuliaan dan etika yang terikat dengan menaati Allah Swt dan Rasul-Nya, serta menentang nafsu (jihad un-nafs), memperbaiki diri dan altruisme (mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan pribadi, itsar).

Dasar-dasar Tasawuf yang terpenting ada lima. Pertama, mensucikan dan menginstropeksi diri. Kedua, menuju keharibaan Allah Swt. Ketiga, berpegang teguh terhadap kefakiran. Keempat, memenuhi hati dengan rahmat dan cinta. Kelima, menghias diri dengan akhlak mulia yang menjadi misi utama pengutusan Nabi Saw untuk menyempurnakannya.

c. Urgensi Tasawuf

Allah Swt memerintahkan hambanya untuk menanamkan keikhlasan di setiap ibadahnya, baik ibadah qauliyah, fi’liyah dan maliyah, dan jauh dari riya’. Allah berfirman, “Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan seluruh agamanya.” (Qs. Al-Bayinah : 5). Allah juga melarang perbuatan keji dengan firman-Nya, “Katakanlah bahwa tuhanku telah mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi.” (Qs. Al-A’raf : 33 ) lalu berfirman, “Dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan keji baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (Qs. Al-A’raf : 33) Perbuatan keji yang tersembunyi di sini menurut ahli tafsir adalah dendam (hiqd), riya’, dengki (hasad), nifaq dan lain-lain. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt tidak menerima sebuah ibadah kecuali yang tulus dipersembahkan untuk-Nya dan ditujukan untuk memperoleh ridha-Nya.” (HR. at-Tirmidzi). Seseorang belum benar-benar cinta pada Allah dan rasul- Nya, sebelum melebihi kecintaannya pada diri pribadi, keluarga, dan segala harta kekayaannya.[3]

Di dalam haditsnya, Rasulullah Saw juga memerintahkan kita untuk menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Beliau bersabda, “Dengan akhlak mulia, seseorang dapat mencapai derajat orang-orang yang selalu berpuasa dan bertahajud.” (HR. Ahmad dan Darimi). Tasawuf sangat urgen dalam memperbaiki hubungan seorang muslim dengan Sang Khalik dan hubungannya dengan sesama. Dari situlah seorang muslim akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Seorang muslim akan mendapatkan keseimbangan lahir dan batin ketika mengimplementasikan ajaran tasawuf dalam setiap sendi ibadahnya sehari-hari. Al-Imam Ahmad Ar-Rifai Qsa. berkata, “Agama komprehensif ini (islam), batinnya adalah inti lahirnya. Dan lahirnya adalah pembungkus batinnya. Tanpa lahir, tidak ada batin. Tanpa lahir, tidak terjadi dan tidak sah batin. Hati tidak bisa berdiri tanpa tubuh. Bahkan, tanpa tubuh hati akan rusak. Dan hati adalah cahaya tubuh.”

d. Akhlak Sufiah

Sufiah (jamak dari sufi) adalah para penerus dan pewaris akhlak Rasulullah Saw. Akhlak-akhlak kaum ini, menurut As Suhrawardi, sebagai berikut: Pertama, tawadhu’. Kedua, mudah bergaul dan sabar menghadapi gangguan manusia. Ketiga, altruisme (itsar) dan melipur lara. Keempat, memaafkan dan membalas keburukan dengan kebaikan. Kelima, ceria dan ramah. Keenam, menginfakkan harta tanpa menyisakannya dan tidak menabung. Ketujuh, menyayangi dan mencari kesamaan antara manusia dengan mengabaikan perbedaan. Kedelapan, bergairah hanya untuk Allah Swt dan berharap ridha-Nya. Kesembilan, sedikit tertawa dan tidak merasa senang dengan hal-hal keduniawian. Kesepuluh, dipenuhi rasa takut kepada Allah Swt, bahwa Allah Swt akan mengadzabnya karena kezalimannya terhadap dirinya dan orang lain. Kesebelas, dipenuhi rasa takut kepada Allah Swt ketika mengingat hari kiamat dan bergetar ketika mendengar al-Qur’an dan dzikir. Keduabelas, memprioritaskan perbuatan akhirat daripada perbuatan dunia. Ketigabelas, tidak lalai untuk berdzikir kepada Allah Swt dan bershalawat kepada Rasulullah Saw di setiap majlis. Keempatbelas, memiliki kehalusan hati dan banyak menangis karena merasa melalaikan hak-hak Allah Swt. Kelimabelas, saling menasehati antara mereka. Keenambelas, khawatir kepada Allah Swt akan menentukan suul khotimah (akhir hayat yang buruk) untuknya. Ketujuhbelas, ada salah satu di antara mereka yang lemah lembut dan patuh terhadap yang lebih kecil seperti kepatuhan kuda. Kedelapanbelas, memandang kebaikan-kebaikan pada diri manusia dan menyamaratakan semua manusia. Kesembilanbelas, sangat beradab terhadap seseorang yang mengajarkan mereka satu ayat al-Qur’an walaupun seorang anak kecil.

e. Ulama Menilai Tasawuf

Tasawuf merupakan salah ilmu yang banyak dianjurkan para ulama untuk kita pelajari. Para ulama memandang Tasawuf sebagai jalan menuju ridha Allah Swt, oleh karenanya mereka banyak mengungkapkan keutamaan ilmu ini. Al-Imam Abu Hanifah Rha Diriwayatkan oleh Al-Hashkafi, seorang faqih (ahli fiqih) Madzhab Hanafi dan penulis kitab Ad-Dur ul-Mukhtar (kitab populer dalam Madzhab Hanafi), berkata, “Aku mengambil jalan ini (Tasawuf) dari Abu ul-Qosim An-Nasr abadzi. Abu ul-Qosim berkata, Aku mengambilnya dari As-Syibli, ia dari As-Sirri As-Saqthi, ia dari Ma’ruf Al- Kurkhi, ia dari Daud At-Thai dan ia mengambil ilmu dan jalan dari Abu Hanifah An- Nu’man Rha. Dan mereka semua memuji dan mengakui kemuliaan Abu Hanifah.” Al- Imam As-Syafi’i Rha Ia berkata, “Setelah sekian lama aku bergaul dengan para sufi, aku telah mengambil manfaat dari mereka dalam tiga kalimat. Mereka berkata, “Waktu laksana pedang. Jika kau tidak memotongnya, ia akan memotongmu.” Mereka juga berkata, “Apabila jiwamu tidak disibukkan dengan kebaikan maka ia akan menyibukanmu dengan keburukan.” Dan berkata, “Ketiadaan merupakan pemeliharaan.” Al-Imam Ahmad Rha Sebelum Imam Ahmad bersahabat dengan sufiah ia berkata kepada anaknya Abdullah rha, “Wahai anakku kuasailah ilmu hadits dan janganlah bergaul dengan orang-orang yang menamakan dirinya Sufiah. Seringkali salah seorang dari mereka bodoh tentang hukum-hukum agama.” Setelah ia bersahabat dengan Abu Hamzah al-Baghdadi (seorang sufi) dan mengetahui hakikat kaum sufi, seketika itu juga ia berkata anaknya, “Wahai anakku bergaullah dengan mereka (kaum sufi), sesungguhnya mereka memberikan banyak ilmu, muroqobah, khosyyah (takut kepada Allah Swt), zuhud dan cita-cita yang tinggi kepada kita”
Ibn Taymiah Rha Pada Juz ke-10 di dalam Majmu’ Fatawa-nya, Ahmad bin Taymiah Rha menulis tentang berpegang teguhnya sufiah terhadap Kitab dan Sunnah. Ia berkata, “Adapun orang-orang yang lurus di dalam menelusuri jalan (kebenaran dan ridha Allah Swt ) seperti ulama-ulama terdahulu (salaf), yaitu Al-Fudhail bin Iyyadh, Ibrahim bin Adham, Abi Sulaiman ad-Darani, Ma’ruf al-Kurkhi, Sirri as-Saqti, Juneid bin Muhammad dan selain mereka dari ulama yang lebih dahulu seperti as-Syeikh Abdul Qadir Jaelani, as- Syeikh Hamad, as-Syeikh Abi il-Bayan dan lain lain, tidak memperkenankan seorang pencari (kebenaran dan ridha Allah Swt) untuk mengabaikan perintah dan larangan syariat meski ia bisa terbang di udara atau berjalan di atas air. Ia tetap harus mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan sampai wafat. Ini merupakan kebenaran yang dianjurkan oleh Al-Kitab, As-Sunnah dan Ijma’ ulama salaf. Perkataan ini sering diutarakan oleh mereka.”

Imam Fakhruddin Ar-Razi Rha Mufasir (penafsir Qur’an) besar terkenal ini berkata di dalam kitabnya I’tiqadaat Firoq ul-Muslimin wal Musyrikin bab ke-8 tentang Ahwal Sufiah (Kondisi Sufiah), “Ketahuilah bahwa banyak golongan manusia yang tidak mengingat sufiah. Ini merupakan sebuah kekeliruan, karena sufiah berpendapat bahwa jalan menuju Ma’rifatullah (mengenal Allah Swt) adalah penjernihan dan pengosongan dari hubunganhubungan jasmani, dan ini merupakan jalan yang baik…. Ia juga berkata, “Ahli Tasawuf merupakan kaum yang menyibukan diri dengan berfikir dan pemfanaan jiwa dari hubungan-hubungan jasmani, mereka bersungguh-sungguh agar tidak mengosongkan sir (lubuk hati terdalam) dan hati mereka dari mengingat Allah Swt di dalam semua tingkah laku dan perbuatan mereka yang dibentuk atas kesempurnaan adab mereka dengan Allah Swt. Mereka merupakan sebaik-baiknya golongan manusia”

Abul Hasan an-Nadwi Anggota Yayasan Ilmiah Arab di Damaskus dan pengasuh Yayasan Nadwatul Ulama di India ini berkata di dalam kitabnya al-Muslimun fil Hind, “Sesungguhnya sufiah memerintahkan manusia untuk bertauhid (mengesakan Allah Swt), ikhlas, mengikuti Sunnah, taubat dari maksiat, kezaliman dan kekerasan. Mereka menganjurkan manusia untuk menghias diri dengan akhlak mulia dan mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela seperti sombong, hasad (dengki), permusuhan, zalim dan cinta jabatan. Mereka juga menganjurkan manusia untuk mensucikan dan mengintrospeksi diri, mengingat Allah Swt, saling menasehati, qana’ah (rendah hati), itsar (altruisme). Yang terpenting dari anjuran tersebut, yang merupakan kunci hubungan khusus yang mendalam antara seorang Syeikh dan muridnya, adalah mereka selalu mengingatkan manusia dalam kebaikan serta menganjurkan mereka memenuhi kecintaan pada Allah Swt di dalamnya, harapan terhadap ridhanya dan berkeinginan keras untuk mengintrospeksi diri dan merubah kondisi.

Kesimpulan

Ajaran tasawuf yang benar adalah yang tidak mengabaikan akhlak terhadap sesama manusia. Jadi, bukan hanya hubungan vertikal dengan Tuhan saja yang harus di bina, namun perlu juga hubungan dengan sesama manusia (hablumminannaas) dengan akhlak yang terpuji. Dalam Islam, bahwa walaupun tujuan hidup harus diarahkan ke alam akhirat, namun setiap muslim diwajibkan untuk tidak melupakan urusan dunianya. Setiap muslim wajib kerja keras untuk menikmati rezeki Tuhan yang telah dihalalkan untuk umat-Nya, asal diperoleh melalui jalan yang halal. Yakni berlomba dengan cara yang jujur dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Akan tetapi mengutamakan kehidupan dunia dan berpandangan materialis-sekuler sangatlah dicela dan diharamkan dalam Islam.

0 komentar:

Posting Komentar